Lompat ke konten utama
KNKT
Berita 11× dibaca

Faktor Dominan Penyebab Kecelakaan Lalu Lintas Jalan

JAKARTA – Kecelakaan lalu lintas jalan saat ini menjadi penyebab kematian, cedera dan kecacatan yang dominan di seluruh dunia. Kurang lebih sebanyak 1,3 juta orang meninggal dunia dan sekitar 20-50 juta orang terluka akibat kecelakaan jalan pada seti

JAKARTA – Kecelakaan lalu lintas jalan saat ini menjadi penyebab kematian, cedera dan kecacatan yang dominan di seluruh dunia. Kurang lebih sebanyak 1,3 juta orang meninggal dunia dan sekitar 20-50 juta orang terluka akibat kecelakaan jalan pada setiap tahunnya. Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) selaku lembaga non-struktural yangbertugas mewujudkan keselamatan transportasi, berdasarkan hasil investigasi yang kerapkali dilakukan menunjukkan bahwa penyebab terjadinya kecelakaan didominasi oleh faktor geometrik jalan.

Perlu diingat bahwa sebagian besar jalan di Indonesia bukanlah jalan yang sengaja dibangun, melainkan jalan peninggalan jaman Belanda, jalan tikus, jalan setapak, jalan lingkungan yang kemudian dilebarkan dan diperkeras sehingga tampak menjadi bagus. Jalan tersebut terjadi tanpa melalui kaidah keselamatan infrastruktur jalan yang baik yang terdiri dari audit keselamatan jalan, inspeksi keselamatan jalan, analisa dampak keselamatan jalan, manajemen daerah rawan kecelakaan, serta laik fungsi jalan, sehingga sangat mungkin jalan tersebut menyimpan banyak hazard yang bisa kapan saja menyebabkan orang celaka.

Pada agenda kegiatan Media Release kali ini dengan mengusung tema “Kecelakaan Lalu Lintas Jalan yang Disebabkan oleh Faktor Geometrik Jalan (Studi Kasus Investigasi Tabrakan Beruntun Ruas Jalan Solo Ngawi, Tikungan Harmoko Musi Banyuasin, dan Tebing Breksi Sleman Jogja)” berfokus pada tiga titik daerah rawan kecelakaan.

Studi kasus pertama, elemen penampang jalan melintang yang terjadi di Ruas Jalan Solo Ngawi.Kecelakaan diawali dengan konvoi antara sepeda motor membawa muatan barang, bus Safari Dharma Raya, bus Mira, bus Sumber Selamat dan Toyota Innova dari arah Solo menuju Ngawi, tepatnya di KM 8-9. Saat bus Mira mencoba mendahului sepeda motor dari arah berlawanan ada Bus Eka sehingga terjadi tabrakan beruntun yang melibatkan 3 bus dan 1 mobil penumpang. Jalan Arteri Primer Kelas II dengan lebar 7 meter 2/2 UD. Bahu jalan 1,5 meter. Kondisi jalan lurus.

Hazard pada kasus tersebut yaitu adanya desain kecepatan tinggi, mixed traffic (gap kecepatan), tabrak depan dan tabrak belakang. Rekomendasi yang perlu dilakukan di antaranya survei inspeksi keselamatan jalan (BPJN dan BPTD), segregasi lalu lintas dengan kecepatan yang berbeda, manajemen traffic calming (aksesibilitas vs keselamatan).

Selanjutnya, elemen alinyemen horizontal di Tikungan Harmoko Musi Banyuasin yang kerap kali terjadi secara berulang kecelakaan tunggal kendaraan terguling atau menabrak tebing. Hazard tersebut sudah ada sejak Pak Harmoko masih menjabat sebagai Menteri Penerangan. Jalan Arteri Primer Kelas II dengan lebar 6 meter 2/2 UD. Bahu jalan 1 meter. Kondisi jalan berkelok. Kecelakaan dialami oleh bus Antar Kota dan Antar Provinsi (AKAP) yang menewaskan 4 korban jiwa.

Identifikasi hazard pada kasus kecelakaan tersebut yaitu tikungan patah setelah jalan lurus, adanya tikungan ganda searah, dan minimnya informasi delineasi jalan. Adapun rekomendasi yang telah diberikan di antaranya perbaikan informasi delineasi jalan, pra-desain perbaikan geometrik tikungan, dan perbaikan geometrik tikungan.

Terakhir, elemen alinyemen vertikal pada Tebing Breksi Sleman Jogja. Terdapat perbedaan tinggi sebesar 191 meter dengan gradien maksimal 35% sejauh 1,81 km. Kendaraan Isuzu NHR 55 memiliki torsi dengan gradeability sebesar 25%. Saat dipaksa naik mesin mengalami overheat dan v-belt putus. Pengemudi dan Pemilik Kendaraan tidak memahami sistem rem. Pengemudi tetap melanjutkan perjalanan turun ke bawah, sehingga terjadi rem blong dan mengakibatkan 6 orang meninggal dunia.

Adapun hazard yang ditemukan yaitu adanya turunan panjang dan ekstrem, jalan beton dan drainase beton, serta minimnya informasi delineasi jalan. Rekomendasi yang harus ditindaklanjuti di antaranya perbaikan informasi delineasi jalan, penyediaan forgiving road, dan pemberian edukasi terkait delineasi jalan.