Investigasi Kecelakaan Lalu Lintas dan Angkutan Jalan Berupa Kecelakaan Tunggal Mobil Bus Po. Trans Putera Fajar Ad 7524 Og, Ciater, Subang, Jawa Barat, Sabtu 11 Mei 2024
-
Pada tanggal 10 Mei 2024 sekitar pukul 06.00 WIB, mobil bus pariwisata dengan nomor kendaraan AD 7524 OG (selanjutnya disebut Mobil bus) yang diawaki 2 (dua) orang berangkat dari Depok, Jawa Barat dengan jumlah penumpang 60 orang pelajar SMK Lingga Kencana Depok dan para guru bersama 2 (dua) mobil bus lainnya menuju kota Bandung, Jawa Barat. Rombongan sampai di Bandung sekitar pukul 11.30 WIB. Keesokan harinya tanggal 11 Mei 2024 sekitar pukul 09.00 WIB rombongan melanjutkan perjalanan ke Tangkuban Perahu setelah beristirahat di hotel sekitar daerah Cihampelas. Rombongan beristirahat makan siang di RM. Kurnia Jatim Lembang yang berada di daerah Lembang. Selama perjalanan dari Cihampelas s.d Lembang pengemudi mobil bus merasakan performa pengereman berkurang (rem tidak pakem saat di injak), pengemudi menghubungi mekanik daerah sekitar dibantu warga. Sekitar pukul 15.00 WIB mekanik sampai di area parkir Tangkuban Perahu dan melakukan penyetelan rem ± 30 menit dibantu crew bus. Sekitar pukul 16.00 WIB rombongan melanjutkan perjalanan menuju Depok melalui rute Subang dan sekitar pukul 16.50 WIB. Rombongan beristirahat (makan, shalat magrib) di RM. Sunda Bang Jun di daerah Ciater. Selama perjalanan dari Tangkuban Perahu ke Ciater pengemudi menemukan indikasi kebocoran dan terdengar suara desis serta pengisian tangki angin sistem pengereman lambat. Pengemudi sempat melakukan komunikasi dengan manajemen untuk meminta mobil bus pengganti dan bersepakat untuk bertemu di pusat oleh-oleh Cari Manis 7 (CM 7). Dengan keterbatasan peralatan dan keterbatasan komponen pengganti pengemudi dan crew melakukan perbaikan pada komponen relay valve selama rombongan istirahat di RM. Bang Jun. Mobil bus melanjutkan perjalanan sekitar pukul 18.40 WIB setelah laju pengisian tangki angin dianggap normal (mengisi sampai diatas 8 bar). Sekitar 300 meter dari RM. Bang Jun, mobil bus berhenti di perempatan Ciater dengan kondisi gradien jalan menurun sekitar 8%, dikarenakan adanya pengaturan lalu lintas antrian kendaraan dari jalur lain dan pengemudi mengaktifkan rem parkir, menginjak pedal rem serta menetralkan transmisi. Sesaat kemudian Indikator tekanan angin pada dashboard terus turun melewati ambang batas normal (±5 bar) dan pengemudi merasakan pengereman tidak bekerja. Pengemudi berusaha memasukkan transmisi namun sistem transmisi tidak dapat bekerja. Mobil bus mulai meluncur pada kondisi gigi netral, dan terus melaju turun sejauh sekitar 500 meter kemudian menabrak mobil penumpang Daihatsu Feroza dan terguling 90° (Body kanan terseret di permukaan jalan) ±25 meter, lalu mobil bus menabrak sepeda motor, dan selanjutnya bagian tengah atap bus menabrak batang pohon serta terus melaju dan berhenti setelah bagian depan bus menabrak tiang Listrik, sebagian penumpang terlempar keluar mobil bus. Evakuasi dilakukan oleh warga sekitar, tim gabungan (SAR, Dinas Perhubungan, TNI, Polres Subang, Tagana, dll) ke RSUD Subang dan Puskesmas. Kecelakaan ini mengakibatkan korban meninggal dunia 11 orang, luka berat 16 orang dan luka ringan 17 orang.
Berdasarkan hasil investigasi dan analisis dapat disimpulkan bahwa faktor yang berkontribusi terhadap kecelakaan adalah kurang optimalnya fungsi rem parkir dalam mempertahankan mobil bus dalam keadaan diam pada jalan menurun harus dibantu dengan mengaktifkan rem utama (service brake). Adanya kebocoran relay valve pada pada sistem rem utama menyebabkan tekanan angin berkurang secara tiba-tiba dan kegagalan sistem dalam melakukan pengereman sehingga mobil bus melaju. Kegagalan mekanis terutama pada sistem pengereman terjadi disebabkan kurang optimalnya perawatan terhadap mobil bus. Selain itu pengambilan keputusan untuk tetap melanjutkan perjalanan meskipun sudah diketahui terdapat kendala pada sistem pengereman juga berkontribusi terjadinya kecelakaan ini. Fatalitas korban terjadi saat mobil bus terguling terjadi deformasi superstruktur mobil bus yang melewati residual space (intrusion) secara langsung mengurangi survival space, serta tidak adanya sabuk keselamatan pada kursi penumpang.
Atas peristiwa tersebut, agar peristiwa serupa tidak terjadi lagi KNKT telah menerbitkan rekomendasi keselamatan kepada Direktorat Jenderal Perhubungan Darat-Kementerian Perhubungan serta Kementerian Pariwisata.