KNKT: Berita Kondisi Cuaca Agar Menjadi Syarat Penerbitan Surat Persetujuan Berlayar
BANJARMASIN –Pada Kamis, 1 Agustus 2019 Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) mengadakan Safety Review Forum dengan tema Keselamatan Pelayaran pada Kapal Roro. Sebagai narasumber dalam kegiatan tersebut adalah Ir. Lamberth Manupassa (Tenaga
BANJARMASIN –Pada Kamis, 1 Agustus 2019 Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) mengadakan Safety Review Forum dengan tema Keselamatan Pelayaran pada Kapal Roro. Sebagai narasumber dalam kegiatan tersebut adalah Ir. Lamberth Manupassa (Tenaga Ahli KNKT) yang memaparkan terkait Temuan KNKT terhadap Aspek Keselamatan Kapal Ro-ro Penumpang, Capt. Holder M. Silaban (Kantor Syahbandar dan Otoritas Pelabuhan Kelas 1 Banjarmasin) yang menjelaskan terkait Ketentuan Pengangkutan Kendaraan di Atas Kapal Roro Penumpang, dan yang terakhir narasumber dari Biro Klasifikasi Indonesia (BKI) yaitu Hasanudin yang memaparkan terkait integritas struktur penahan kebakaran. Kegiatan ini dihadiri oleh para stakeholder dari Kemenkomaritim, Ditjen Perhubungan Darat, KSOP terkait, Dinas Perhubungan daerah terkait, dan perusahaan pelayaran terkait.
Forum tersebut secara garis besar menyampaikan perlunya peningkatan kepedulian terhadap kapal Roro untuk meningkatkan keselamatan penumpang. KNKT mengusulkan agar berita tentang kondisi cuaca menjadi salah satu syarat yang harus dilampirkan oleh Nakhoda ketika mengajukan Surat Persetujuan Berlayar (SPB) dari KSOP atau syahbandar terkait. “Kondisi cuaca menjadi salah satu faktor penyebab sering terjadinya kecelakaan pelayaran. Sementara nakhoda dan syahbandar juga sering abai atau kurang memperhatikan kondisi cuaca,” kata Ketua KNKT Soerjanto. Menurut Soerjanto, berdasarkan hasil berbagai investigasi terhadap kecelakaan kapal, ada beberapa penyebab yang merupakan faktor paling berkontribusi atas terjadinya kecelakaan kapal, khususnya kapal Ro-Ro, yaitu sering diabaikannya faktor cuaca ketika kapal hendak berlayar.
Di akhir forum dapat ditarik beberapa kesimpulan yaitu terkait bagaimana komunikasi harus dapat disampaikan dengan baik terutama mengenai setiap istilah atau informasi harus dibuat agar dapat dimengerti oleh awak kapal yang ada di atas kapal, kemudian perlu adanya auditor yang independen sehingga dapat mengontrol manajemen yang sehat terhadap regulator. Selain itu, hal yang perlu diperhatikan yaitu terutama data cuaca perairan diperlukan kontribusi yang lebih intensif dari para stakeholder sehingga dapat dilakukan validasi terhadap prediksi yang dilakukan oleh badan public terkait seperti Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), dengan demikian dapat meningkatkan akurasi data hasil prakiraan yang dikeluarkan oleh BMKG. Faktor cuaca menjadi salah satu dari beberapa faktor yang berkontribusi terhadap kecelakaan dan sebenarnya dapat diprediksi dan diminimalisasi, oleh karena itu perlunya pemahaman tentang batasan operasi suatu kapal dan pemanfaatan teknologi untuk menyebarkan informasi tentang cuaca.