Lompat ke konten utama
KNKT
Berita 2× dibaca

KNKT Bertemu dengan Keluarga Awak Kapal MV Nur Allya

Berbagai upaya koordinasi terus dilakukan oleh KNKT mulai dari berkoordinasi dengan Kemenkomaritim, Basarnas, Kemenhub, TNI AL, Kemkominfo, hingga bantuan dari MAIB dan TSIB serta pihak PT Gurita Lintas Samudera selaku operator kapal ini. Pada kesemp

TERNATE –Pada Jumat, 3 Oktober 2019 KNKT bersama stakeholder terkait bertemu dengan keluarga Awak Kapal MV Nur Allya untuk menjelaskan hasil perkembangan proses investigasi terhadap kapal MV Nur Allya yang hilang kontak sejak 23 Agustus 2019.

Dalam pertemuan tersebut KNKT menjelaskan terlebih dahulu kepada keluarga bahwa KNKT telah melakukan upaya semaksimal mungkin dalam melakukan investigasi yang dilakukan secara independent dan mandiri. Dalam melakukan investigasi KNKT memiliki prinsip yaitu: tidak untuk menyalahkan seorang ataupun instansi, tidak untuk penuntutan hukum, dan tidak untuk dasar pertanggungjawaban ganti rugi.

Berbagai upaya koordinasi terus dilakukan oleh KNKT mulai dari berkoordinasi dengan Kemenkomaritim, Basarnas, Kemenhub, TNI AL, Kemkominfo, hingga bantuan dari MAIB dan TSIB serta pihak PT Gurita Lintas Samudera selaku operator kapal ini. Pada kesempatan tersebut, KNKT menjabarkan hasil survey lapangan yang telah dilakukan bersama-sama dengan pihak terkait. Antara lain yaitu penentuan lokasi survey didasarkan pada posisi dipancarkannya sinyal AIS (Automatic Identification System) terakhir dan Posisi sinyal EPIRB (Emergency Position Indicating Radio Beacon) pertama. AIS sendiri adalah perangkat pemancar (transceiver) yang mampu secara otomatis memancarkan dan menerima data navigasi (nomor kapal dan posisi) melalui sinyal radio Very High Frequency (VHF), sedangkan EPIRB adalah perangkat yang akan memancarkan sinyal jika terendam oleh air ketika kapal mengalami kejadian yang tidak terduga sehingga dapat mempermudah menentukan lokasi terakhir kapal yang tenggelam.


Survey pertama dilakukan pada 5 – 11 September 2019 akan tetapi KNKT tidak dapat menurunkan alat pinger locator (pendeteksi sinyal ping yang dipancarkan oleh EPIRB) dikarenakan cuaca buruk selama waktu survey. Kemudian dialnjutkan survey kedua pada 24 September – 2 Oktober 2019 menggunakan alat Magnetometer dan Acoustic Pinger Locator.

Pencarian terus dilakukan dengan kerjasama para stakeholder untuk menentukan lokasi terakhir dari kapal MV Nur Allya. Saat proses pencarian berlangsung, ditemukan beberapa puing kapal seperti sekoci, pelampung, serta Yokohama Fender.

Pada akhir paparan KNKT menyampaikan bahwa sejauh ini data dukung yang diperoleh selama investigasi sejauh ini yaitu: Rute perjalanan kapal Nur Allya, Sinyal AIS terakhir, Sinyal EPIRB pertama, temuan barang-barang dari kapal Nur Allya, Hasil pembacaan alat magnetometer dan Pinger Locator. Berdasarkan data dukung tersebut maka diperoleh hasil yaitu: Pencarian difokuskan pada titik hilangnya sinyal AIS dan EPIRB pertama, ditemukan pembacaan magnetometer yang menunjukkan logam besar di bawah air, sinyal ULB terdeteksi lemah, dan kedalaman perairan yaitu 843 meter. Dari temuan dan bukti-bukti tersebut maka dapat disimpulkan kapal Nur Allya berada di bawah permukaan laut dengan kedalaman 843 meter.

Tindak lanjut yang akan dilakukan oleh KNKT yaitu: melanjutkan survey penentuan posisi kapal lebih detail, penyelesaian investigasi KNKT berupa pencarian Voyage Data Recorder (VDR) kapal MV Nur Allya, kajian muatan dan stabilitas kapal, pemantauan rekomendasi KNKT, hingga publikasi laporan akhir hasil investigasi kepada publik.