KNKT Mengadakan Bimbingan Teknis Bloodborne Pathigens bagi para Investigator
JAKARTA – Seorang investigator yang memiliki tugas untuk melakukan penyelidikan, penelitian, dan pencarian penyebab terjadinya kecelakaan dituntut untuk bisa menjaga dan menyelamatkan dirinya sendiri, selain itu seorang investigator juga harus bisa m
JAKARTA – Seorang investigator yang memiliki tugas untuk melakukan penyelidikan, penelitian, dan pencarian penyebab terjadinya kecelakaan dituntut untuk bisa menjaga dan menyelamatkan dirinya sendiri, selain itu seorang investigator juga harus bisa memahami serta mengidentifikasi hazard dengan baik. Peduli akan bahaya dan banyaknya ancaman penyakit pada saat melakukan investigasi kecelakaan, KNKT mengadakan bimbingan teknis bloodborne pathogens bagi para investigator pada 11 Maret 2020 di Ruang Aula Gedung KNKT.
Ony S. Wibowo selaku investigator penerbangan membagikan pengalamannya kepada seluruh investigator yang hadir dalam acara tersebut, apabila terjadi kecelakaan sebelum bertugas sebaiknya biasakan diri untuk melakukan site survey, jangan langsung terburu-terburu, cari tahu lokasi pastinya terlebih dahulu, pikirkan akses menuju lokasi, bagaimana medannya, bagaimana cuaca dan lingkungannya sehingga semuanya dapat dipersiapkan secara maksimal.
Ony S. Wibowo juga mencontohkan suatu kecelakaan yang sempat terjadi beberapa waktu lalu, terdapat mobil sport yang sedang melaju dengan kecepatan tinggi yang tiba-tiba hilang kendali sehingga mobil menabrak pembatas jalan dan kap mobil mengeluarkan asap disertai api yang sewaktu-waktu dapat saja meledak namun tidak sedikit masyarakat yang menjadikan tragedi kecelakaan tersebut sebagai media tontonan atau “destinasi wisata”. Adanya kerumunan orang-orang di lokasi kejadian tidak hanya menjadikan proses evakuasi dan investigasi terhambat tetapi hal tersebut juga merupakan salah satu hazard yang dapat menimbulkan bahaya. Oleh sebab itu Ony S. Wibowo menghimbau agar seluruh investigator selalu waspada dan dapat mengantisipasi hal-hal apapun yang tidak terduga yang sewaktu-waktu dapat saja terjadi pada saat proses investigasi.
Tidak hanya penyampaian materi oleh Ony S. Wibowo saja, Dr. Herman selaku dokter spesialis penerbangan pun juga turut membagikan pengalamannya dalam kegiatan tersebut. Dr. Herman menghimbau kepada seluruh investigator yang bertugas untuk membiasakan diri menjaga kebersihan serta mengutamakan keselamatan dengan cara selalu menggunakan APD (Alat Perlindungan Diri) yang terdiri dari baju pelindung, sarung tangan, kacamata, alat pernafasan, dan sepatu. Karena tidak ada satu orang pun yang dapat menjamin apakah di lokasi terjadinya kecelakaan terbebas dari kuman atau malah terdapat penyakit yang berbahaya. Dr. Herman berharap penggunaan APD dan menjaga keselamatan serta kesehatan pada setiap investigator dapat dijadikan sebagai suatu kebiasaan atau behavior agar terhindar dari hal-hal yang tidak diinginkan.