Lompat ke konten utama
KNKT
Berita 12× dibaca

KNKT Turut Gabung dalam Tim Operasi Gabungan Kecelakaan Kri Nanggala 402

JAKARTA – Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) ikut tergabung dalam tim operasi gabungan yang terdiri dari Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), Badan SAR Nasional (BASARNAS) dan Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Kelauta

JAKARTA – Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) ikut tergabung dalam tim operasi gabungan yang terdiri dari Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), Badan SAR Nasional (BASARNAS) dan Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Kelautan (P3GL) terkait pencarian kapal selam KRI Nanggala 402 yang mengalami hilang kontak saat sedang melaksanakan latihan penembakan torpedo, pada hari Rabu 21 April 2021 di Perairan Utara Pulau Bali.

Kegiatan bantuan KNKT dimulai dengan mengerahkan alat pendukung pencarian, berupa Remotely Operated Vehicle (ROV), merupakan sebuah robot bawah laut yang dapat dikendalikan dari jarak jauh oleh operator yang berada pada kondisi wilayah yang aman. ROV dapat bekerja pada lingkungan bawah laut yang tidak mungkin dijangkau oleh manusia, serta meluncurkan peralatan Marine Magnetic SeaSpy Magnetometer milik P3GL yang digunakan untuk mendeteksi perkiraan lokasi kapal selam.

Setelah mendapat konfirmasi dari Ketua KNKT dan Kepala Kantor SAR (Kakansar) Bali, proses pemindahan peralatan dilakukan ke Kapal Negara (KN) Arjuna milik Basarnas Bali oleh dua investigator keselamatan pelayaran KNKT, dua personil P3GL, dan satu personil BPPT tepatnya di Dermaga Tanjung Wangi, Banyuwangi.

Pada 23 April 2021 pukul 16.45 WIB, KN Arjuna bertolak dari Dermaga Tanjung Wangi, Banyuwangi menuju ke koordinat yang disepakati Basarnas, setelah mendapat ijin dari Lanal Banyuwangi, diketahui Ketua KNKT serta Kakansar Bali. KN Arjuna tiba di posisi pada pukul 22.30 WIB, kemudian diarahkan oleh Basarnas agar tetap melaksanakan scan marine magnetometervisual watching, dan setting perlengkapan lainnyauntuk siap diluncurkan pada pukul 00.00 WIB.

Tanggal 24 April 2021, sekitar pukul 00.30 WIB, transduser marine magnetometer mulai diluncurkan pada kedalaman air laut termonitor 200, 400 dan 550 meter di way point monitor dan cable marine magnetometer disesuaikan panjangnya dengan kedalaman sea bed. Sekitar pukul 03.30 WIB, cable marine magnetometer tersangkut pada baling-baling KN Arjuna, sehingga nakhoda memutuskan untuk memberhentikan kegiatan, menunggu hingga langit terang, dan melaporkan kondisi ke Basarnas Command Centre (BCC) dan Kakansar Bali dengan hasil nihil.

Tanggal 25 April 2021 sekitar pukul 06.30 WIB, tim KNKT berkomunikasi dengan Ketua KNKT dan Deputi Operasi Basarnas Pusat terkait penggunaan ROV milik KNKT, namun sesuai arahan Ketua KNKT bahwa ROV hanya mampu pada kedalaman maksimal 400 meter sehingga ROV tidak dapat dioperasikan, disamping umbilical wire cable memiliki panjang hanya 800 meter. Pada pukul 18.30 WIB tim KNKT berkunjung ke KN Wisnu yang baru saja bersandar di Pelabuhan Tanjung Wangi Banyuwangi, terkait rencana ROV dimuat di kapal tersebut sesuai arahan Ketua KNKT, namun tidak ada crane untuk mengangkat ROV.

Setelah dilakukan pencarian selama tiga hari, kapal selam yang kala itu membawa 53 awak kapal, kemudian dinyatakan tenggelam oleh TNI AL pada tanggal 24 April 2021 dengan ditemukannya puing-puing yang diduga berasal dari kapal selam tersebut. Titik keberadaan kapal tersebut diketahui berdasarkan kontak bawah air yang dilakukan oleh

KRI rigel dibantu kapal milik Singapura MV Swift Rescue. KRI Nanggala 402 ditemukan ada di kedalaman 838 meter dalam kondisi terbelah menjadi 3 bagian dan seluruh awak dinyatakan gugur.

Dari adanya peristiwa kapal selam KRI Nanggala 402 ini, besar harapan KNKT agar hal ini dapat menjadi pertimbangan dalam perencanaan pemenuhan peralatan operasional guna mendukung kegiatan investigasi kecelakaan transportasi untuk dapat terlaksana dengan baik di masa mendatang.