Monitoring KNKT di Jalur Pantai Selatan Jawa Guna Mempersiapkan Arus Mudik Angkutan Lebaran Tahun 2023
Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) melakukan monitoring transportasi jalur darat dalam rangka mudik Angkutan Lebaran tahun 2023. KNKT membentuk tim monitoring yang dipimpin oleh Ketua KNKT, Soerjanto Tjahjono bersama dua Investigator mod
JALUR SELATAN JAWA – Rabu s.d. Sabtu, 1 s.d. 4 Februari 2023 Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) melakukan monitoring transportasi jalur darat dalam rangka mudik Angkutan Lebaran tahun 2023. KNKT membentuk tim monitoring yang dipimpin oleh Ketua KNKT, Soerjanto Tjahjono bersama dua Investigator moda Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (LLAJ) serta satu pegawai sekretariat KNKT. Kegiatan ini dimaksudkan untuk memonitor keadaan terkini yang terdapat di sepanjang jalur yang potensial untuk dilewati oleh pada pemudik. Monitoring ini difokuskan di sepanjang Jalur Pantai Selatan (Pansela) Pulau Jawa. Sebagai alternatif jalur angkutan lebaran dari Jakarta menuju Jawa Tengah dan D.I. Yogyakarta, Jalur Pansela merupakan jalur yang terbentang dari Labuhan, provinsi Banten, hingga Kabupaten Pacitan, Provinsi Jawa Timur.
Perjalanan tim dimulai dari kantor KNKT di Jakarta menuju kota Bandung hingga ke Kabupaten Garut. Perjalanan menuju Bandung dilakukan melalui Jalan Tol Jakarta-Cikampek hingga menuju Purbaleunyi. Pada Simpang nagreg terdapat potensi kepadatan lalu lintas yang tinggi sehingga daerah tersebut berpotensi menjadi lokasi rawan kemacetan. Selepas Simpang Nagreg, daerah potensial untuk menjadi rawan kemacetran adalah di daerah Kadungora karena terdapat banyak persimpangan dan juga jalan yang rusak.
Perjalanan dari Garut menuju Cilacap melalui Tasikmalaya dapat disampaikan bahwa keadaan jalan memiliki kontur berupa perbukitan dan pegunungan. Dimensi jalan yang dilalui memiliki lebar jalan sebesar 7m dengan 2 lajur 2 arah tanpa median dan memiliki gradien rata-rata jalan sebesar 4% dan maksimal 19%. Di samping itu, pada jalur tersebut terdapat beberapa kerusakan pada permukaan jalan, kerusakan perlengkapan jalan berupa guardrail, dan permasalahan tidak adanya marka jalan.
Waktu tempuh antara Jakarta – Garut dengan
jalan normal dan menggunakan kecepatan yang ditentukan adalah sekitar 4 hingga
5 Jam dalam kondisi lau-lintas normal dan lancar. Jika pengemudi menjalankan
ibadah puasa, diimbau untuk sesering mungkin melakukan istirahat. Pada lokasi
sekitar Pabri Kahatek, jika terjadi hujan yang deras dan panjang maka daerah
tersebut akan rawan terjadinya banjir, para pemudik diimbau untuk selalu
memantau kondisi terlebih dahulu sebelum memasuki jalur tersebut.
Pada lokasi turunan Nagreg terdapat turunan
panjang sehingga kepada para pengemudi untuk meyakinkan kondisi kendaraan dalam
kondisi baik terutama pada sistem pengereman kendaraan. Selain itu, gunakan
gigi rendah dan kendalikan kendaraan secara baik dan jaga kecepatan tidak
melebihi 25 Km/ jam. Untuk lokasi Kadungora terdapat titik rawan kemacetan, sehingga
diimbau kembali untuk pada pemudik agar menggunakan jalur Garut – Tasikmalaya.
Jalur dari Tasikmalaya menuju Cipatujah
memiliki kontur jalan perbukitan dan pegunungan dengan gradien rata-rata jalan
sebesar 3% dan maksimal 10% dengan dimensi jalan memiliki lebar 7m. Sisi kanan
dan kiri jalan memiliki karakteristik berupa lereng dan jurang yang berpotensi
longsor. Disarankan kepada para pemudik apabila melewati jalur ini untuk lebih
berwaspada dan hati-hati.
Untuk jalur Cipatujah menuju Pangandaran
hingga Cilacap dapat disampaikan bahwa keadaan jalur tersebut memiliki kontur
yang relatif datar dengan gradien maksimal jalan 9% dan dimesi lebar jalan
sebesar 7m. Sisi kanan sepanjang jalur tersebut adalah laut Pantai Selatan
Pulau Jawa. Sepanjang perjalanan melalui jalur tersebut didominasi area pantai,
hutan, dan jauh dari pemukiman warga sehingga minim penerangan. Diharapkan agar
para pengendara yang melalui jalur ini untuk waspada dan meningkatkan
konsentrasi berkendara. Kendala yang terjadi pada jalur ini yaitu terdapat 3
titik lokasi pembangunan jembatan baru yang akan berpotensi menimbulkan antrean
kendaraan yang menyebabkan kemacetan. Selain itu, terdapat juga proyek
perbaikan jalan akibat longsor yang diprediksi belum akan diselesaikan hingga
arus balik lebaran usai.
Selanjutnya bagi para pemudik yang
melanjutkan rute ke Yogyakarta sebaiknya menghindari ruas jalan Ayah – Jladri,
pada ujung ruas jalan ayah dapat melanjutkan ke jalur selatan via Banyuwulung, Lalu
melanjutkan Kembali melewati jalur pantai selatan lewat Gombong – Jladri via
Jalan Karang Bolong.
Dari hasil pemantauan pada perjalanan dengan rute tersebut, KNKT memberikan rekomendasi yaitu:
- Bagi calon pemudik dari Jakarta yang akan menggunakan jalur Pantai Selatan (Pansela) disarankan melalui jalur dengan rute Jakarta – Bandung – Garut -Tasikmalaya – Cipatujah – Pangandaran – Cilacap dibandingkan melalui jalur selatan Nagreg – Limbangan – Rajapolah.
- Pemudik yang akan melalui jalur Pansela disarankan menghindari perjalanan pada malam hari.
- Untuk Jalur Cilacap menuju Yogyakarta sebaiknya menggunakan jalur Cilacap – adipala – Gombong (Kebumen) lalu kembali ke jalur pantai selatan Djladri – Wawar - Kulonprogo.
- Ketika melewati Tasikmalaya – Cipatujah – Cilacap cukup banyak tersedia SPBU, namun tidak banyak ditemukan fasilitas perbaikan kendaraan (bengkel). Disarankan berkendara pada siang hari.
- Jika berkendara dalam kondisi berpuasa, usahakan lebih banyak istirahat guna menghindari kelelahan/fatique.