Lompat ke konten utama
KNKT
Berita 2× dibaca

Penggunaan Ban yang Tepat dan Benar sebagai Upaya Peningkatan Keselamatan Berkendara

JAKARTA – Kejadian pecah ban kendaraan terutama di jalan tol yang akhir-akhir ini sering terjadi berulang membuat Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) merasa perlu membahasnya dalam Focus Group Discussion (FGD). FGD dengan tema “Peningkata

JAKARTA – Kejadian pecah ban kendaraan terutama di jalan tol yang akhir-akhir ini sering terjadi berulang membuat Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) merasa perlu membahasnya dalam Focus Group Discussion (FGD). FGD dengan tema “Peningkatan Keselamatan Berlalu Lintas Di Jalan Tol Antar Kota Melalui Penggunaan Jenis Ban Yang Tepat Dan Benar” dilaksanakan tanggal 17 Januari 2019 di Ruang Rapat KNKT dengan dihadiri Kepala Badan Litbang Kementerian Perhubungan, perwakilan dari Ditjen Perhubungan Darat, serta perwakilan dari perusahaan-perusahaan swasta yang terkait dengan industri ban mobil.

FGD ini diadakan dengan tujuan untuk membahas temuan terutama pada kecelakaan moda transportasi LLAJ yang telah diinvestigasi oleh KNKT bahwa penggunaan ban merupakan aspek yang sangat penting dalam keselamatan berlalu lintas. Acara dibuka oleh Ketua KNKT, Soerjanto Tjahjono. Dalam sambutannya Soerjanto merasa prihatin karena dari data statistik yang ada kejadian pecah ban ini terjadi ribuan kali. Walaupun secara spesifik KNKT belum pernah mengadakan investigasi khusus kecelakaan yang disebabkan oleh pecah ban, tetapi hal tersebut tetap menjadi perhatian KNKT. Harapannya dengan mengundang beberapa pihak terkait bisa mencari solusi dalam menangani hal tersebut. Terhadap perusahaan ban yang dilibatkan dalam diskusi ini, Soerjanto berharap industri ban tidak hanya berfikir terhadap penjualan produknya saja tetapi juga berfikir untuk mengedukasi pengguna ban menyangkut penggunaan dan perawatan ban, sehingga kejadian pecah ban bisa diminimalisasi.

Dalam kesempatan yang sama, Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Kementerian Perhubungan, Sugihardjo mengatakan terkait fenomena pecah ban ini ada dua hal mendasar di masyarakat. Pertama masyarakat banyak salah kaprah mengenai fungsi ban tersebut. Banyak masyarakat yang lebih mementingkan gaya dibanding fungsi utamanya. Sehingga banyak yang menggunakan ban yang tidak sesuai dengan kebutuhan kendaraan. Hal yang kedua adalah masyarakat yang tidak paham mengenai persoalan ban ini diperparah dengan industri ban yang menutup informasi akan penggunaan ban.

Berdasarkan paparan yang disampaikan oleh KNKT terungkap bahwa ban merupakan aspek penting dalam menentukan tingkat keselamatan kendaraan bermotor. Dalam paparan tersebut dicontohkan kecelakaan tunggal yang terjadi di Tol Madiun pada 27 Desember 2018 terungkap bahwa ban depan kanan mobil Toyota Fortuner mengalami pecah sehingga menyebabkan kecelakaan. Kejadian tersebut menyebabkan satu orang meninggal dunia dan dua lainnya kritis. Kemudian kasus lainnya yaitu kecelakaan di Tol Pejagan Cirebon pada 28 Desember 2018 dengan kronologi kejadian pada mulanya kendaraan bergerak dengan kecepatan 100 km/jam dan kemudian terjadi pecah ban sehingga terguling beberapa kali dan menyebabkan tiga orang meninggal dunia.Dari contoh kasus tersebut dan ditambah dengan beberapa data yang lain dapat disimpulkan bahwa ban pecah pada kendaraan yang bergerak pada kecepatan tinggi mengakibatkan ketidakstabilan pada pergerakan kendaraan serta eaksi pengemudi yang panik dengan melakukan tindakan antisipasi yang tidak tepat seperti membanting stir dan rem mendadak dapat mengakibatkan kendaraan menikung secara tiba-tiba dan atau terguling.

Untuk meningkatkan keselamatan jalan maka diperlukan pemeriksaan ban agar tetap dalam kondisi prima diantaranya yaitu melakukan pengukuran tekanan ban. Setiap jenis ban memiliki nilai tekanan yang berbeda sesuai dengan ukuran, bentuk, bobot, maupun fungsinya. Nilai tekanan ideal dijelaskan dalam buku manual yang diberikan oleh manufaktur untuk dijadikan referensi pengukuran tekanan ban, pencapaian beban maksimum dari ban baru harus disesuaikan dengan ban yang sebelumnya. Untuk melakukan ini maka perlu mengetahui kode load index (indeks beban) dari ban standar lalu mencocokkannya dengan tabel load index. Jika tekanan kurang dari nilai ideal maka dapat disesuaikan tekanannya.

Pemeriksaan ban secara rutin dapat menghindari masalah saat berkendara. Pemeriksaan dilakukan secara rutin meliputi tekanan angin yang disesuaikan dengan berat muatan, kemudian perhatikan ban dari barang-barang asing yang kerap kali dapat menempel dan merusak alur ban seperti batu, paku, besi, dan sebagainya. Pemeriksaan selanjutnya yaitu pada bagian luar ban apakah terjadi robek atau retak untuk menghindari potensi ban pecah secara tiba-tiba. Terakhir yaitu pemeriksaan keausan ban, jika alur ban kurang dari nilai yang ditetapkan pada manual ban maka harus segera diganti dengan ban yang baru.

Jika ban mengalami masalah terutama bocor maka sebenarnya dapat dilakukan penambalan walaupun opsi ini bukan merupakan yang ideal untuk menyikapi masalah ban bocor. Untuk menambal ban disarankan dilakukan oleh teknisi resmi yang memiliki kemampuan baik dalam memperbaiki ban, setelah ban selesai ditambal maka dapat diperiksa dan disesuaikan tekanan pada ban tersebut.

Dalam kesempatan berikutnya para perwakilan dari industri ban diminta pendapat dan saran untuk meminimalisir kejadian pecah ban ini. Dalam FGD ini diharap para pelaku industri ban di Indonesia dapat memberikan pandangan terkait penyebab pecahnya ban, jenis-jenis kerusakan yang sering terjadi pada ban, masukan untuk jenis ban apa yang sesuai dengan jalan di Indonesia, serta diharapkan dapat memberikan saran untuk pencegahan kecelakaan tersebut.

Diharapkan setiap stakeholder yang ikut terlibat dan bertanggungjawab pada keselamatan transportasi khususnya transportasi moda darat yang berhubungan dengan ban dapat saling mendukung untuk terselenggaranya transportasi yang aman dan nyaman bagi masyarakat