Kurangnya Pengawasan dalam Penanganan Barang Berbahaya (B3)
JAKARTA – Sampai dengan saat ini masalah keselamatan pengangkutan barang berbahaya (B3) masih belum berjalan secara optimal terutama kurangnya pengetahuan mengenai potensi bahaya yang akan terjadi apabila terjadi kecelakaan pada saat proses pengangku
JAKARTA – Sampai dengan saat ini masalah keselamatan pengangkutan barang berbahaya (B3) masih belum berjalan secara optimal terutama kurangnya pengetahuan mengenai potensi bahaya yang akan terjadi apabila terjadi kecelakaan pada saat proses pengangkutan barang berbahaya (B3) ke tempat tujuan.
Pada tanggal 13 Juli 2022 Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) melakukan kunjungan kerja ke kantor Badan Pengawas Tenaga Nuklir (Bapeten) membahas mengenai potensi bahaya yang terjadi pada proses pengangkutan B3. Soerjanto Tjahjono selaku ketua KNKT didampingi oleh Dahlia Cakrawati Sinaga selaku Deputi Pengkajian Keselamatan Nuklir serta Zainal Arifin selaku Deputi Perizinan dan Inspeksi.
KNKT bermaksud untuk berdiskusi mencari jalan keluar penanganan terutama untuk pengangkutan nuklir dan mengharapkan dapat melakukan kerja sama dengan Bapeten terutama jika terjadi kecelakaan angkutan barang berbahaya yang ditugasi untuk melakukan tanggap darurat.
“Selama ini kalo ada kendaraan pengangkut BBM baik LPG maupun cair itu ketika berada di rest area tempatnya tidak dipisahkan, khusus untuk kendaraan pengangkut B3 ketika sedang berhenti istirahat harus minimum berjarak 100 meter dari kegiatan masyarakat. Ini yang kami khawatirkan dalam penanganan barang berbahaya seperti nuklir, maka kita ingin mendapat informasi lebih kedepannya terkait penanganan B3 di Bapeten ini sejauh mana sehingga kami KNKT bisa melakukan koordinasi dengan siapa pun, sepanjang itu untuk keselamatan akan kami lakukan,” ujar Soerjanto.
Mengingat di Kementerian Perhubungan yang mengatur spesifikasi kendaraan pengangkut nuklir hingga sampai saat ini belum ada dan sangat tertinggal jauh dengan Amerika di mana terdapat pelatihan khusus dalam mengawasi pengangkutan nuklir termasuk dari sisi keamanannya. Oleh sebab itu, KNKT bermaksud untuk memikirkan secara bersama terkait penanganan B3 terutama untuk pengangkutan nuklir.
Pada kesempatan yang sama turut disampaikan pemaparan oleh Wildan selaku Plt. Kepala Sub Komite Investigasi Kecelakaan Lalu Lintas dan Angkutan Jalan KNKT dengan tema “Transportasi Bahan Berbahaya” mengenai resiko pada pengangkutan B3 dan kemudian dilanjut dengan pemaparan materi yang disampaikan oleh Zulkarnain selaku
Direktur Kesiapsiagaan Nuklir dengan tema “Indonesia Center of Excellence on Nuclear Security and Emergency Preparedness” mengenai program I-CoNSEP yang memungkinkan untuk setiap pemangku kepentingan saling berkoordinasi dalam setiap kegiatan yang menyangkut ketenaganukliran maupun keamanan nuklir seluruh Indonesia.
Pada akhir diskusi disepakati akan adanya penandatanganan kesepakatan sebagai bentuk kerja sama antara KNKT dan Bapeten terkait keselamatan transportasi angkutan barang berbahaya khususnya nuklir. Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan penyerahan plakat dari Bapeten untuk KNKT dan sesi foto bersama. Besar harapan KNKT dengan diadakannya pertemuan ini potensi bahaya pengangkutan B3 ke depannya dapat diminimalisir secara optimal.
Berita terkait
Lihat arsip berita →- Berita
Peluncuran Asean Motorcycle Assessment Programme (Asean Map) Dukung Peningkatan Keselamatan Sepeda Motor di Asia Tenggara
Kementerian Pengangkutan Malaysia melalui MIROS meluncurkan ASEAN MAP pada 11 Agustus 2026 di Selangor, diresmikan Wakil Menteri YB Datuk Hasbi. Acara 2 hari ini dihadiri pakar, produsen, da…
- Berita
Ketua KNKT: Setiap Investigasi Harus Menghasilkan Langkah Pencegahan Kecelakaan Berikutnya
Ketua KNKT, Soerjanto Tjahjono, menyampaikan paparan bertajuk "From Investigation to Prevention: Building a Safer Aviation Future" pada rangkaian 3rd Indonesia Aero Summit (IAS) 2026
- Berita
Di IISAR 2026, Ketua KNKT Dorong Penguatan Sinergi SAR Melalui Pembelajaran dari QZ8501 dan SJ182
KNKT menegaskan bahwa pengalaman penanganan kecelakaan pesawat AirAsia QZ8501 dan Sriwijaya Air SJ182 memberikan pelajaran penting bagi penguatan sistem pencarian dan pertolongan / Search an…
